Postingan

Betapa Berbedanya Kita

Postingan ini masih saja tentang kamu. Entah kapan aku bisa lepas dari semua bayang-bayangmu. Juga tidak peduli apakah kamu membaca ini, dan semua tulisanku yang teruntuk kamu. Selama mengenalmu, kutemukan banyak perbedaan antara kita. Mungkin karena perbedaan itulah aku lebih dulu tertarik kepadamu Tidak pernah sedikitpun aku merasa menyesal pernah mengenal kamu, karena kamu begitu berarti buatku. Sementara aku hanya menjadi selingan dikala kamu kesepian dan butuh seseorang untuk menemani.  Ketika ada notifikasi namamu muncul di handphone ku, secepat mungkin aku membalas. Sementara pesanku kau balas sesenggangmu saja. Selelah apapun aku setelah seharian beraktivitas, tak pernah menolak ajakanmu yang sekadar membuang rasa bosan. Dan disaat aku lagi butuh-butuhnya denganmu, ketika hati membutuhkan sang empunya kau entah dimana. Bahkan pesanku saat itu baru kau baca 2 hari kemudian. Aku mencintaimu, sementara kamu tidak. Iya aku memang bodoh. Tapi tak pernah berhrn...

Untuk Kamu

Apa kabar kamu? Aku rindu kamu Aku tahu aku tidak pantas mengatakannya Bahkan hanya untuk mengingatmu saja aku tidak berhak Aku tahu itu Tapi rasa ini bergejolak bak api disiram air bensin Bisa apa aku? Aku ingin kamu tahu tentang ini Sesuatu yang tidak pernah aku ucapkan Bergetar bibirku tiap kali ingin mencoba mengatakannya Kamu mungkin sudah tidak peduli lagi Atau bahkan kamu tidak membaca tulisanku ini Tidak apa Aku hanya ingin mengataknnya Sesuatu yang selama ini selalu menyesakkan dada Aku tidak tahu kapan dan dimana tepatnya Rasa itu muncul Rasa suka ku kepadamu Aku tidak begitu mengenalmu Bagaimana mungkin aku menaruh rasa padamu? Apa yang akan terjadi jika kau melakukan hal buruk kepadaku? Aku tidak pernah tahu Aku juga tidak peduli Mungkinkiah itu cinta? Seperti yang dibicarakan banyak orang? Aku tidak ingin mengambil kesimpulan seperti itu Terlalu banyak hal buruk tentang itu di masa lalu ku Yang aku tahu, aku sayang sama kamu Aku pikir de...

Kembali Pagi

Pagi kembali menyapa Mentari menawarkan senyum terbaiknya Aku.. Aku baru saja membuka mata Menguap Menggeliat Mencoba mencari celah masuknya matahari Haruskah pagi datang secepat ini? Aku masih lelah Tenaga ku habis sebab begadang semalam Cangkir kopi sisa semalam masih terletak diseberangku Lembaran kertas laporan berbaris tidak rapih disampingku Sementara itu, aku harus masuk kelas Mata kuliah yang membosankan itu Dosen yang lebih cocok jadi pendongeng Dan kamu. Sungguh aku ingin tidur (lagi) saja Rasanya tidak ingin menampakkan wajahku padamu

Hujan

Gambar
Hujan. Datang dengan cerita yang berbeda. Mengingatkan akan sepotong kenangan yang menuntut untuk dikenang. Kenangan lama. Tentang seseorang. Tentang teman yang telah lama pergi.

Gerimis

Satu dua datang dan turun bergantian. Memberi kode agar orang-orang segera mencari tempat berteduh. Layaknya sebuah perasaan, sedikit demi sedikit terus tumbuh. Seseorang yang bisa membuat jantungmu berdetak saat mendengar namanya, membuatmu tak kuasa walau hanya menatap wajahnya apalagi matanya. Bukan seseorang yang pertama mengisi hati tapi yang terus berada disampingmu, mengambil tempat disetiap cerita keseharianmu.

Mendung

Matahari mulai melangkah mundur. Awan hitam mulai terlihat. Ini hampir sama ketika kamu sedang pms. Aku merasa seperti harus berlindung. Mencari tempat berteduh agar tidak basah jika nanti hujan turun. Bersembunyi, tidak ingin menjadi tempat akan pelampiasan amarahmu atas kedatangan tamu yang tidak diundang tiap bulan itu.

Kamu kenapa?

Kamu kenapa? Kenapa kamu muncul (lagi) setelah usaha yang aku lakukan selama ini terlihat baik-baik saja? Kenapa kamu bersikap baik (lagi) terhadapku? Kenapa kamu seakan enggan melepasku? Kenapa kamu membuat aku berpikiran kalau kamu .... Ah..aku tidak  ingin jauh berpikiran Tapi kenapa? Kamu seperti memberi harapan - atau aku yang terlalu percaya diri (?) Kamu memberikan kode-kode yang tidak biasa Kode yang menunjukkan kalau kamu itu .... Ah..apa yang sedang aku pikirkan ini Apa aku salah? Lantas apa maksud semuanya selama ini? Kamu bilang lebih baik sahabatan daripada menjalin sebuah hubungan Lalu, kamu bilang lagi kalau sendiri itu jauh lebih menyenangkan Kamu kenapa? Mungkinkah aku hanya pelarian? Disaat kamu jenuh dengan segala rutinitas keseharianmu, kamu datang kepadaku Dan aku dengan polosnya menerima (lagi) kehadiranmu Aku yang memang (masih) belum bisa menjauhimu dari duniaku Aku yang memang (masih) berharap tentang kamu Tentang kisah yang nantiny...