"Jika Kamu Ingin, Kamu Bisa"

Bel sudah mulai berbunyi. Siswa dan siswi berlarian menuju kelasnya masing-masing. Mereka tidak ingin bertemu dengan guru killer yang selalu berjalan mengelilingi sekolah, mencari setiap siswa yang belum memasuki kelas.

Sementara disudut sebuah kelas, tampak seorang anak laki-laki dengan penampilan yang sangat biasa sedang termenung. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil memandang kearah teman-temannya. Diantara mereka ada yang sedang bergaya menunjukkan wajah cantiknya, ada yang dikerumini teman-teman lainnya karena sedang menjelaskan pelajaran dan ada juga yang sedang memamerkan harta kekayaan orang tua mereka. Dia berpikir, dan kembali termenung. Dia hanyalah seorang siswa biasa yang tidak memiliki apapun untuk dibanggakan.

Waktu berlalu begitu cepat. Bel pulang juga sudah berbunyi. Lagi, satu hari yang biasa telah ia lewati. Ketika ia sampai dirumah...

"Bu, kapan Bapak pulang? Bapak akan bawa uang yang banyak kan, Bu?"
"Nak, kenapa kamu ini? Kita harus bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Jangan memandang keatas, Nak"
"Tapi, Bu, aku selalu merasa gengsi di sekolah. Walaupun tidak ada yang mengucilkanku, tapi aku seperti dikucilkan"
"Jangan turuti egomu, ingat...," pembicaraan ibu terhenti. 
"Assalammu'alaikum", bapak mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam", dia dan ibunya kompak menjawab.
"Berapa banyak uang yang bapak bawa hari ini? Apakah cukup untuk membelikanku sebuah tas bermerek seperti yang dimiliki teman-temanku? Bisakah aku...", pertanyaannnya terputus. 
"Cukup, Riki! Bapak kamu itu hanya kerja serabutan, jadi kamu harus tahu diri", ibu membentakinya.
"Sudah..sudah..bapak tidak ingin kita seperti ini. Ayo kesini duduk berkumpul bersama bapak."

Pak Hadi, bapaknya Riki, meminta mereka untuk duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi ini secara kekeluargaan.

"Ada apa, Pak?" Riki bertanya.
"Maaf, bapak tidak bisa memenuhi semua keinginan kalian. Tapi bapak akan terus berusaha agar kita tidak kekurangan".

Riki menunduk malu. Raut wajahnya menunjukkan kalua dia merasa kasihan kepada bapaknya itu.

"Riki, Nak, bapak hanya ingin melihat kamu menjadi orang yang berguna terutama bagi orang-orang yang berada disekitar kamu. Kamu harus rajin belajar agar pintar. Kamu tidak boleh seperti bapak. Kamu mengerti?"
"Iya, Pak. Maafin Riki karena udah ngomong gitu ke bapak tadi"

Suasana kembali hangat. Keluarga kecil nan harmonis itu tersenyum terharu. 

Esok harinya di sekolah...

"Hoi! PR Fisika udah siap belum?" Riki memulai obrolah dengan teman sebangkunya, Hanif.
"Emm..udah. Nih, liat aja" Hanif menjawab sambil mengambil buku PR-nya dan memberikannya kepada Riki.
"Oke, thankyou sob".

Setelah 5 menit diamenyalin PR itu, telepon genggam Riki bergetar. Itu adalah telepon dari ibunya dan dengan segera dia menjawab.

"Ada apa, Bu?"
"Cepat pulang, Nak. Bapakmu sudah tidak ada"
"Apa??!!!" suara Riki membuat semua orang yang berada di kelas berhenti beraktivitas dan memandang kearahnya.

Tanpa memikirkan apapun, dia segera meninggalkan kelas dan pulang kerumah dengan mengayuh sepeda tua bekas milik pamannya.

"Yaa Tuhan..ada apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Rencana apa yang sedang Kau lakukan, Tuhan. Hamba mohon lindungilah kedua orangtua hamba. Semoga aku hanya salah mendengar saja." 

Dia bertanya-tanya sambil berdoa dan tetap berharap semoga semuanya akan baik-baik saja. Namun Dewi Portuna belum berpihak padanya. Hari itu juga mayat bapaknya dimakamkan.

"Kenapa bisa seperti ini, Bu?"
"Bapakmu kena konsleting listrik saat bekerja"
"Astaghfirullah, Bapaak," Riki memeluk batu nisan bapaknya.

Dia dan ibunya terus menangis, sampai pada satu titik dia teringat pesan bermakna yang bapaknya sampaikan. Mulai saat itulah ia bertekad akan menjadi orang yang bermanfaat seperti yang bapak inginkan.

Harusnya, JANGAN MENUNGGU ORANG YANG KITA SAYANG PERGI UNTUK MEWUJUDKAN KEINGINAN MEREKA

"Tenanglah, Bu. Masih ada Riki disini. Riki janji akan membuat ibu selalu tersenyum," dia menghapus air matanya dan memeluk ibunya.

Waktu terus berjalan. Kepergian sang kepala rumah tangga tidak lagi menjadi bayang-bayang bagi keluarga kecil ini. Riki belajar dengan sangat giat. Ucapan bapaknya itu dijadikannya cambuk untuk melangkah maju. Di sekolah, teman-temannya menyalin jawaban dia ketika ada PR. Dia selalu mendapat nilai sempurna ketika ulangan. Dia menjadi pusat perhatian kelas karena menjadi tutor sebaya yang baik. Semuanya telah berubah.

FROM NOTHING TO SOMETHING!

Saat penerimaan rapor...

"Bu, lihatlah. Aku mendapat juara"
"Kamu hebat. Ibu bangga padamu, Nak. Ibu tahu kamu itu anak yang pintar," ibu mengelus kepala Riki namun iya hanya tersenyum tersipu malu.

Kebahagiaan keluarga ini terus berlanjut. Riki sering mengikuti Olimpiade dan tidak jarang ia mendapat peringkat. Uang sebagai hadiahnya itu selalu ia berikan kepada ibunya.

"Terima kasih, Nak. Sekarang kamu benar-benar menjadi orang yang bermanfaat. Ingat, kamu harus terus bersyukur."

Riki sangat bahagia. Tidak hanya bisa memberikan ilmu kepada teman-temannya tetapi ia juga bisa menafkahi dirinya dan ibunya.

THE END


Author: @fattandamagalin
Inspirasi  by: Muhammad Riski H (KiHa)
Teman sekelas selama SMP yang gokil dan baru-baru ini dia mendapat juara 2 lomba OSN (FISIKA) tingkat Nasional yang lagi siap-siap untuk ikut OSN tingkat Internasional. Aku bangga bisa mengenal dia, walaupun pintar tapi masih tetap rendah diri. Semangat terus untuk Kiha, jangan lupain Olin, jangan lupain UB, jangan lupain kenangan kita selama SMP :')


Note: Gak semua kejadian dari cerita ini adalah yang benar-benar terjadi pada Kiha, aku cuma ngambil sepenggal peristiwa dan ide ceritanya aja. Thankyou..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINDU

Yang Seharusnya Dilakukan Sebelum KELULUSAN

Ini Alasannya..